Wisata Sejarah Di Situs Ratu Boko

Ratu Boko Yogyakarta

Candi Ratu Boko atau Keraton Ratu Boko atau Situs Ratu Boko merupakan salah satu peninggalan sejarah nusantara dari abad ke VII - IX Masehi yang terletak di kawasan Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Sleman, tidak terlalu jauh dari Candi Prambanan. Kawasan ini memang dikenal sebagai kawasan purbakala di mana banyak ditemukan bangunan-bangunan candi yang sebagian besar mungkin masih belum ditemukan.

Candi Ratu Boko terletak di atas perbukitan di ketinggian 196 meter di atas permukaan laut, sekilas bentuknya mirip benteng pertahanan, namun sejatinya bangunan batu ini merupakan bekas komplek Wihara sebagaimana yang tercatat pada prasasti Abhayagiriwihara yang berangka tahun 792 Masehi.

Ratu Boko Yogyakarta

Situs Ratu Boko memiliki luas 160.892 Meter Persegi atau lebih dari 16 Hektar, banyak wisatawan yang terkecoh hanya dengan melihat bagian depanya saja, sejatinya situs ini cukup luas dan terdiri dari bangunan-bangunan dengan tema berbeda, seperti bangunan Candi Pembakaran, Paseban, Alun-Alun, Batur Paseban, Pendopo Keraton, Keputren, Goa, alun-alun dan lainya.


Banyak wisataan yang datang ke Situs Ratu Boko pada sore hari untuk dapat melihat keindahan sunset dari atas bukit ini, bagian depan GapuraKeraton Ratu Boko yang memiliki bentuk unik dan khas memang tepat menghadap ke Barat sehingga perpaduan eindahan matahari terbenam berpadu dengan keindahan arsitektur Gapura Candi menjadi daya tarik terutama untuk mereka yang menyukai fotografi.

Ratu Boko Yogyakarta

Situs Ratu Boko merupakan bangunan peninggalan sejarah yang bercorak Hinduisme sekaligus juga memiliki sejarah corak Budhisme. Peninggalan sejarah yang menunjukan corak Budhisme di Ratu Boko antaralain ditemukanya reruntuhan Stupa dan Arca Dayani Budha, hal ini sesuai dengan apa yang ditulis dalam Prasasti Abhayagiriwihara yang menuliskan bahwa bangnan ini pada mulanya diperuntukan sebagai bangunan Wihara.

Ratu Boko Yogyakarta

Sekitar tahun 856 Masehi, SitusRatu Boko perubah menjadi rumah kediaman seorang penguasa yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbhayoni yang beragama Hindu. Hal ini dikuatkan dengan temuan 3 buah Prasasti Ratu Boko (a,b dan c) berangka tahun 856 Masehi yang kesemuanya menceritakan tentang pendirian lingga yang berkaitan dengan agama Hindu. Prasasti lain yang ditemukan yaitu prasasti Pareng berangka tahun 862 Masehi yang menceritakan pendirian sebuah bangunan suci untuk dewa Siwa yaitu Candi Badraloka. Peninggalan arkelologi lain yang bersifat Hinduisme di Situs Ratu Boko antaralain adalah ditemukanya Arca Durga, Ganesha, Yoni dan sebuah prasasti yang terbuat dari lempengan emas.

Ratu Boko Yogyakarta

Masuk ke dalam kawasan Candi Ratu Boko, setelah melewati jalan setapak dan beberapa anak tangga, pengunjung akan tiba di Gapura Keraton Ratu Boko, bentuk gapura ini sangat terkenal, bahkan bisa dikatakan hampir semua foro-foto wisatawan tentang Ratu Boko mengambil lokasi di tempat ini. Pintu Gapura ini menghadap ke barat, sehingga berhadapan langsung dengan pemandangan matahari terbenam.

Masuk melewati gapura, di sebelah kiri anda terdapat bangunan batu tinggi yang bernama Candi Pembakaran. Bangunan candi ini terbuat dari batu andesit dengan ukuran panjang 22.6 meter, lebar 22.33 meter dan tinggi 3.82 meter. Disebut sebagai candi pembakaran karena di dalam candi ini pernah ditemukan abu bekas pembakaran yang pada mulanya dipercaya sebagai abu dari pembakaran jenazah raja, namun dari hasil penelitian abu tersebut merupakan hasil dari pembakaran kayu dan tiak diketemukan unsur tulang atau unsur tubuh manusia lainya. Di dalam Candi Pembakaran terdapat sumur suci, air sumur dengan kedalaman sekitar 5 meter ini dipercaya mempunyai tuah dan digunakan sebagai air suci pada kegiatan keagamaan di Candi Pembakaran. Sampai saat ini air dari sumur suci masih digunakan pada pada upacara keagamaan Tawur Agung menjelang Hari Raya Nyepi. Air dari sumur ini dibawa ke pelataran Candi Prambanan sebagai tempat dilaksanakanya upacara Tawur Agung.

Ratu Boko Yogyakarta

Menyusuri jalan setapak ke sebelah kanan wisatawan akan menemukan bangunan lain yang diberi nama Paseban, Paseban merupakan bangunan yang diperuntukan sebagai ruang tunggu bagi tamu yang akan menemui raja.

Keluar dari Gapura di sebelah selatan, menuruni anak tangga wisatawan akan menyadari bahwa komplek Ratu Boko memiliki area yang cukup luas, di sekitar lokasi ini wisatawan akan melihat beberapa objek antara lain Pendopo Keraton, Keputren dan Goa. Pendopo berukuran besar dengan pagar yang tinggi diperkirakan merupakan bangunan utama, bangunan pendopo sebelumnya diperkirakan memiliki tiang-tiang kayu, atap dan dinding layaknya bangunan pendopo keraton yang mewah.

Selain menyimpan sejarah yang tinggi, Situs Ratu Boko merupakan tempat yang nyaman untuk bersantai di sore hari saat matahari terbenam, di saat sore banyak wisatawan yang berfoto dan bersantai sambil menikmati keindahan alam. Tiket masuk Ratu boko untuk dewasa ialah Rp. 25.000, tiket parkir mobil Rp. 10.000. (IndoTravelers)



Artikel Lainya